Rembuk Stunting Desa Lamatuka
LAMATUKA — Pemerintah Desa
Lamatuka menggelar Rembuk Stunting Desa pada Selasa, 1 September 2026,
sebagai langkah strategis untuk memperkuat komitmen bersama dalam upaya
pencegahan dan penanganan stunting di Desa Lamatuka.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh
berbagai unsur masyarakat dan kelembagaan desa, di antaranya Pemerintah Desa
Lamatuka, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tenaga kesehatan desa, kader
Posyandu, para ketua RT, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, serta tokoh pemuda.
Rembuk stunting dibuka sekaligus
dipimpin oleh Fransiskus Benediktus Boli, selaku Kepala Desa Lamatuka.
Dalam arahannya, Kepala Desa menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen
masyarakat dalam mencegah stunting, mengingat persoalan tersebut tidak hanya
berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut pola asuh, pemenuhan gizi,
kebersihan lingkungan, serta kesejahteraan keluarga.
Menurutnya, penanganan stunting
membutuhkan kerja sama lintas unsur di tingkat desa. Pemerintah desa tidak
dapat bekerja sendiri tanpa dukungan tenaga kesehatan, kader Posyandu, lembaga
desa, para ketua RT, serta masyarakat.
“Rembuk stunting ini menjadi
ruang bagi kita bersama untuk melihat persoalan yang ada di desa dan mencari
solusi secara bersama-sama. Pencegahan stunting harus dimulai dari keluarga dan
didukung oleh seluruh masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan dalam
kegiatan tersebut.
Dalam forum rembuk, peserta
diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, masukan, serta berbagai
persoalan yang berkaitan dengan kondisi kesehatan ibu dan anak di wilayah Desa
Lamatuka. Pembahasan diarahkan pada upaya memperkuat pelayanan Posyandu,
pemantauan tumbuh kembang anak, pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan balita, serta
peningkatan kesadaran keluarga terhadap pentingnya pola hidup sehat.
Keberadaan kader Posyandu menjadi
salah satu unsur penting dalam upaya pencegahan stunting. Para kader diharapkan
terus berperan aktif dalam melakukan pemantauan pertumbuhan balita, memberikan
edukasi kepada orang tua, serta berkoordinasi dengan tenaga kesehatan apabila
ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Sementara itu, keterlibatan para
ketua RT, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda diharapkan dapat
memperluas gerakan pencegahan stunting hingga ke tingkat keluarga dan
lingkungan tempat tinggal.
Melalui Rembuk Stunting Desa
Lamatuka, seluruh peserta diharapkan memiliki komitmen yang sama untuk
membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan ibu dan anak.
Hasil pembahasan dalam kegiatan ini selanjutnya menjadi bahan bagi pemerintah
desa dalam menentukan langkah dan prioritas kegiatan pencegahan stunting sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus
menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong seluruh masyarakat
Desa Lamatuka dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung tumbuh
kembang anak.
Dengan kolaborasi antara
pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, lembaga desa, dan masyarakat,
Desa Lamatuka berkomitmen untuk terus melakukan berbagai upaya pencegahan
stunting demi terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
